Dodo Si Anak Petualang vs Avan Si Anak Metropolitan

PhotoGrid_1500981600092

Adalah sebuah hal yang wajar jika seorang manusia mengalami kebosanan akibat rutinitas sehari-hari. Apalagi jika kamu seorang atlet basket yang setiap hari ketemu dengan “itu-itu saja”, bola basket, lapangan, dan teman satu tim yang juga lo lagi lo lagi. Ada variasi latihan pun tak pernah jauh-jauh dari tempat fitness atau jogging track.

Lalu bagaimana ya para pemain Satria Muda Pertamina menyiasati rasa jenuh mereka?
Ada yang hobi bernyanyi seperti Gunawan, bermain game seperti Rizal Falconi, ada juga yang suka makan nasi Padang seperti Kevin Yonas.

Nah kalau Center andalan SM Pertamina, Christian Ronaldo Sitepu, mengaku lebih suka kembali ke alam untuk mengusir kepenatan. Apalagi hidup di kota besar yang setiap harinya diwarnai kemacetan dan polusi udara seperti Jakarta. Kembali ke alam membuatnya merasa menemukan kesegaran kembali. Pikiran pun jadi lebih tenang. Dodo cukup beruntung punya rumah di Kota Bogor yang notabene masih sejuk dan kontur geografinya berupa pegunungan.

Hal ini dimanfaatkan dengan baik olehnya. Ia sering kali mengisi waktu luangnya di akhir pekan dengan travelling menjelajahi alam seperti hiking dan tracking di sekitar Bogor. Bagi pemain bertinggi dua meter ini, ada rasa puas yang ia dapatkan setelah menjelajah alam.

“Biarpun capek, tapi ada ketenangan yang didapatkan. Puas rasanya kalau udah sampai diatas. Dan banyak yang bisa didapat saat mendaki, kita ketemu dengan banyak orang baru. Dari mereka saya bisa dapat pengalaman baru, belajar dari orang-orang baru. Dan kadang kita juga dituntut untuk membuat keputusan-keputusan tentang banyak hal disaat ada hal-hal yang tak terduga kayak cuaca buruk atau track yang gak sesuai dengan bayangan kita. Selain itu kita juga bisa adjust diri kita dengan alam. Lebih dari itu sih kita jadi lebih bisa menghargai alam, menyadari bahwa kita hanya makhluk kecil di bumi ini,” ungkapnya.

Sejak kecil Dodo memang menyukai wisata alam. Latar belakang keluarganya memang membuatnya dekat dengan alam sehingga sudah terbiasa untuk menjelajah. Rasa lelah tak lagi jadi masalah.
Dodo pun memimpikan suatu saat dia bisa sampai ke Puncak Nepal, atau mungkin puncak Gunung Rinjani dan Semeru yang masih dekat.

Berbeda dengan Dodo, Avan Seputra justru merasa kapok mendaki gunung. Katanya, cukup sekali seumur hidup dan menolak secara tegas kalau harus disuruh mengulang pengalaman naik gunung lagi. Pada dasarnya dia memang bukan tipe orang yang suka dengan alam. Avan pernah merasakan beratnya mendaki gunung saat ia menjalani training camp bersama teman-teman satu timnya di PON Jatim tahun 2016 lalu.

“Munggah gunung gur marai sirah ngelu, sirahku kunang-kunang, capek banget, capeknya pake banget banget,” katanya dengan logat medhok khas Surabayanya.

Saat itu Avan diharuskan mendaki Gunung Penanggungan di Surabaya yang tingginya “hanya” 1653 mdpl. Waktu itu Avan dan teman-temannya membutuhkan waktu 7 jam untuk mendaki gunung dan kembali ke spot awal pendakian. Tapi bagi Avan itu adalah 7 jam terlama dan paling menyebalkan dalam hidupnya. Ia bahkan merasa keringat yang ia keluarkan selama pendakian tidak sebanding dengan apa yang ia dapatkan saat dia mencapai puncak.

“Pas naik gunung jujur aja aku kaget dan aku gak punya peralatan naik gunung yang layak. Apalagi waktu itu jalurnya agak licin dan aku pakainya sepatu jogging. Air minum yang aku bawa itu sekitar 4,5 liter dan udah abis jauh sebelum aku sampai di puncak. Aku bawa baju lima buah tapi semuanya udah dipakai buat ganti dan itu basah kuyup semua sampai bisa diperes-peres. Dari yang awalnya pakai celana jogger waktu naik sampe cuma pakai celana combat yang super ketat waktu turun. Aku dilihatin orang-orang gara-gara celana itu tapi yaudah mau gimana lagi. Dan waktu itu ada tim putri juga dan mereka terlihat sudah sangat lelah. Tapi kayaknya aku lebih capek dari pada mereka, sepanjang jalan aku cuma ngomel-ngomel hahaha,” ceritanya panjang lebar.

Meski sempat terpeleset beberapa kali dan harus jatuh bangun melawan medan yang sulit, Avan menolak untuk menyerah. Kata-kata winners never quit terus terngiang di kepalanya. Dia memaksa dirinya sendiri untuk terus mendaki. Perasaan lega seketika menyelimutinya ketika ia sudah sampai di puncak. Tapi itu tak berlangsung lama. Belum sampai lima menit, ia justru sudah diminta untuk bergegas turun karena cuaca mulai memburuk.

Avan pun lebih terkejut karena saat turun justru terlihat lebih menyeramkan dibanding saat mendaki. Saat itu pula dia berharap ada terjun payung yang bisa membawanya cepat sampai ke bawah. Beruntung dia bisa sampai di bawah dengan selamat. Ia mengapresiasi dirinya sendiri karena sudah melawan rasa takut, kekesalan dan bisa mendaki sampai puncak.

Seperti halnya anak-anak metropolitan lainnya, menonton film, bermain game, kulineran dan berbelanja jadi pilihan Avan untuk mengusir rasa bosannya.